And the reason is you..

Bismillahirahmannirrahim

Untuk beberapa alasan saya mencari tahu tujuan ada disini. Berjalan sejauh ini. Melangkah sebesar ini.
Untuk apa? Untuk siapa?
Emang dulu, dulu sekali. Waktu masih unstabil dan bingung menentukan arah, inilah tujuan saya. Ini goal yang ingin dicapai. Lalu saat sekarang saya sudah ada disini…

Day #2
Tadi pemberian materi sama Pak Asep Mulya, tentang Wawasan Nusantara sebenarnya. Tapi menjalar2 sampai ke masalah profesi. Beliau tanya, kenapa mau jadi PNS? Masing2 yang ditanya bilang, karna pengen ada kestabilan pendapatan lah, karna pengen masa tua terjamin lah, pengen nyari nafkah, pengen nyenengin ortu lah, tuntutan calon mertua, de el el.

‘Pengen punya pendapatan stabil pak.’
“Ya, stabil. Stabil juga besarannya. Berapa sih gaji PNS. Apalagi yang golongan 2.”

‘Pengen ada jaminan di hari tua.’
“Yee belum juga tua udah mikirin jaminan. Emang situ yakin bakal hidup sampe tua? Hehe”

‘Pengen nyari nafkah, pak.’
“Memangnya sumber nafkah cuman di PNS doang? Gak dong..”

‘Pengen nyenengin ortu, pak’
“Sekarang ortu kamu sudah seneng?”
‘Alhamdulillah seneng pak’
“Kamu seneng?”
‘……..’

Semacam menghujam, padahal Pak Asep gak nanya sama saya. Tapi koq yang terakhir ‘kena’ ya?
Saya pengen nyenengin ortu, ortu udah seneng, saya?
Lalu saat pertanyaan itu mampir ke saya, kenapa mau jadi PNS?

Lalu bel istirahat bunyi. Saya dan teman2 sholat ashar, mandi dan rehat di kamar. Saya masih kepikiran topik tadi.
Tepat sebelum saya mau rebahan, ibu nelpon.
“Gimana nak, lancar? Kalo nggak penting2 banget nggak usah ijin pulang lah. Istirahat aja disana, jangan sakit. Jalani bener2, ikuti apa kata pembinanya biar lulus. Ya?”
Ada nada bangga, harapan dan senang dari suaranya.

Saya agak tersedak waktu jawab ‘iya bu, iya bu’ >_ Tanpa sadar jadi merasa ada yang nampar trus bilang, “ini nih alasan kamu kenapa ada disini! Bangun woy!”
\(*`Д´)づ)`з゜)#

Selesai ngobrol singkat itu saya akhirnya tau.
Ya saya disini. Di tempat ini. Di titik ini.
Untuk kedua orangtua. Terutama ibu. Untuk saudara2 saya. Untuk seluruh keluarga. Terutama almarhum nenek yang nggak sempat melihat saya berseragam yang dibangga2kannya itu.

Alasan kenapa saya bingung adalah saya masih nggak tahu tujuan semua ini buat saya. Saya nggak sadar. Saya terbutakan.

Dari teka sampe sma, ibu yang menentukan saya harus sekolah dimana. Kecuali sma, saya selalu masuk ke sekolah baru sendirian. Dan harus beradaptasi sendirian. Saya bukan tergolong anak yang bisa langsung supel at d first meet. Saya cenderung apatis, galak, dan paling males disuruh2 kenalan sama anak baru.
Sekarang saya bersyukur pernah ada di sekolah2 itu. Bersyukur untuk pelajarannya, teman2, dan semuanya.
Sekarang saya bersyukur saya menuruti harapan ibu. Walaupun saya kesal awalnya. F(^_^)

Buat mengingatkan saya nanti dan kita semua nih…

Nggak ada orangtua yang nggak bangga sama anaknya. Yakini itu dulu. Udah? Oke lanjut..
Orangtua pasti pengen anaknya lulus sekolah, kuliah, punya kerjaan bagus, menikah, ngasih cucu, hidup dengan baik, sehat, sejahtera. That’s all enough.

Tapi kadang sebagai anak, apalagi anak muda nih kayak saya (˘▽˘), ada rasa pengen show of. Pengen ngasih bukti ke ortu kalo kita bisa jadi ‘lebih’ dari yang mereka harapkan. Dengan mengesampingkan atau menunda mewujudkan harapan mereka lebih dulu.
Padahal, kita nggak akan tau sampai batas mana waktu bakal berhenti untuk kita bisa mengabulkan harapan2 ortu itu. Bakal sempatkah?
(╥﹏╥)
          (╥﹏╥)
                    (╥﹏╥)

Trus kapan dong waktunya kita buat jadi matang, dewasa, mandiri, dengan menemukan jalan kita sendiri?
Dulu saya mikir saya nggak akan bisa melakukan apa yang saya mau kalau saya cuma sibuk memenuhi maunya ortu. Grrr..
Ya lah, secara saya untuk ngurus satu hal aja susah. Ditambah dengan hal lain kayaknya bakal nggak jalan semuanya.
Ternyata waktu saya coba, saya ikhlas, saya niatkan buat ngebahagiain mereka yang saya cintai, Allah Maha Membuka Jalan. Adaaa aja caranya saya bisa melakukan dan mendapat apa yang saya benar2 perlukan alih2 yang saya inginkan.

Jadi, kalau harapan ortu bersebrangan dengan harapan kita, kenapa nggak dibikin jembatan?
Atau kenapa nggak bisa jalan beriringan?

Percaya deh nggak ada ruginya nyenengin ortu. Malahan hidup insya Allah tambah berkah dan dipermudah.
Sebaliknya kalo selalu membantah dan menyalahkan ortu atas semua yang terjadi sama kita, maka celakalah. Mending cepet2 minta ampun dan mulai perbaiki diri.
Ingat aja nggak ada kata terlambat selama hayat masih dikandung badan.
I did it and i felt it. Trust me, it works!

Saya juga masih belajar. Lebih2 saat keinginan2 saya masih dipending atau dianulir oleh ortu. Buat minta kompensasi dan ikhlas itu perlu kekuatan lebih. But overall, saya tidak akan merasa asing dengan itu semua.

Jika Allah membiarkan kita hidup tanpa hambatan, kita tidak akan sekuat ini.

Yaaah at least i found the reason.
And the reason is you…

Posted from WordPress for Android

One thought on “And the reason is you..

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s