Uneg-uneg Pemilu

Bismillah..

Pada pileg lalu sempat terdorong untuk memilih calon dari partai islam tertentu karna kuatnya desakan sahabat2 saya.
Pun dari sisi lain saya memahami mudharat yang ditimbulkan jika memperturutkan keinginan memilih salah satu dan mengorbankan semua…
Semua yang saya yakini.
Agak terbahak saat akhirnya terseret masuk ke balik bilik. Melihat begitu banyaaaakkkk gambar dan wajah yang TIDAK SAYA KENAL.
Sebagai seorang yang bertipe praktis, saya mungkin adalah orang yang paling cepat berada di balik bilik.
Sementara yang lain ada yang lebih dari setengah jam. Saya lalu maklum, lha wong harus nyamain nama, logo partai, muka calegnya. Dengan gambar di balik kertas sisipan amplop atau sms pesanan (mungkin). Haha
Ribet banget.
Busuk banget.
Lalu yang terjadi kemudian saat pengumuman pemenang partai dominan adalah, beberapa partai islam yang ‘ngambek’ dengan para golputers.
"Tuh kan, loe sih pada golput, kalah kan kita. Menang kan orang2 liberal sekuler itu."
Begitu kira2. Saya bahasakan simpelnya.
Hmmm…

Lalu mereka muncul kembali saat pilpres. Jujur saya merasa punya kedekatan emosi dengan salah satu parpol islam. Yah semacam ada riak2 cinta lah disana. Cinta kepada saudara seiman yang sedang ngambek2an. *Uhuk
Maka sayapun berharap mereka untuk mengambil langkah mundur dari pilpres dan menjadi oposisi.
Meski punya suara kecil, terasing, tapi tetap terhormat.
Meski kalah, tapi punya pendirian. Punya keyakinan.
Keren. Kece.
Tapi politik mah nggak sekece itu sob.

Pun akhirnya mereka bergabung dengan para ‘sekuler dan liberal’ itu. Meski dibalut indahnya dukungan dari para ulama dan partai islam.
Ah fatamorgana..
Yang dulu melarang golput supaya para sekuler dan liberal kalah, sekarang bergabung dengan sekuler dan liberal.
Ugh, sakitnya tuh disiniii *nunjuk ati rempela*

Menjelang pilpres saya mulai berusaha ‘menikmati’ atmosfirnya.
Panas dinginnya.
Pro kontranya.
Keculasan keculasannya.
Fakta dan fiktifnya.
Bahkan kalau bisa dimuntahin, mungkin supporters dan haters itu bakal muntahin data2 capres & cawapres yang ditelannya.
Entah bulat2, entah kotak2.
Dari kalangan orang alim sampe bodoh ikut komentar. Dari tukang sapu jalanan sampe pejabat ikutan kasih opini. Dari artis sampe guru atur posisi.
Sampai tiap kajian di mesjid, kantor, kampus, sekolah juga disisipkan betapa indonesia memerlukan pemimpin yang bener. Bener2 kotak atau yang berlambang garuda.
Ckckck bener2 dah.

Sampai akhir pilpres dan indonesia punya presiden terpilih. Jangan bayangkan pangeran tampan berkuda putih yang membawa bendera kemenangan dan sukses membawa rakyatnya bebas dari penjajahan.
Jangan.
Karna kalau itu terjadi maka fakta berikutnya nggak akan muncul.
Karena pihak lawan memilih mengundurkan diri dari keputusan pemilu & mengajukan gugatan dengan ber truk2 barang bukti tentang kecurangan2 pemilu.
Sementara dari pihak yang terpilih sudah merasa jumawa dan mewariskan pemimpin daerah yang kafir ke ibukota.

“Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”
(TQS. Al Baqarah: 250)

Saya pribadi tidak memihak dan tidak pro ke siapapun.
Allah Maha Mengatur segala sesuatu.
Yang menggelitik dan agak memprihatinkan bagi saya adalah fakta di lapangan setelahnya.
Betapa banyak opini entah dari yang berilmu atau yang awam sekali.
Yang seakan2 beranggapan (atau memang meyakini) bahwa indonesia akan lebih baik jika dipimpin capres yang bukan kamu. Iyaa kamuu..
Indonesia akan lebih bisa ‘terselamatkan’. Entah ditujukan untuk personal atau kelompok. Entah dari sisi nasionalis atau agama. Entah dalam skala nasional atau perlindungan global terhadap ancaman asing.
Deep sigh..
Sekarang sakitnya tuh disini dan disana.

Sampai Allah sendiri di klaim mendukung ke salah satu capres.
Innalillahi..
Lalu diantara saudara2 seiman yang sekarang turut menyuarakan dukungan ke salah satu presiden. Perlu ditanyakan,
Belum sadarkah, belum belajarkah.
Tidakkah kalian belajar dari pengalaman? Tidakkah kita sudah melihat begitu banyak fakta sejarah?
Sebesar apa dukungan yang diberikan akan memberi dampak yang ‘diharapkan’ bisa lebih baik dari kondisi yang terpapar sekarang?
Sebesar apa keselamatan yang bisa dijaminkan jika yang satu benar dan yang lain salah?
Sebesar apa….dibanding kekuatan ummat yang sedang tidur terlena dan menunggu dibangunkan?
As we know, baru isu khilafah kecil saja dunia sudah kalang kabut.
Sadar akan kekuatan raksasa kita yang jika terbangun saja, musuh2 Allah sudah ketar ketir.
Lalu kenapa kalian masih sibuk tsiqoh bahwa indonesia akan lebih terselamatkan jika keputusan KPU berubah?

Tears dropping my eyes now.
:"(

Sekali lagi, saya sampaikan uneg2 ini bukan karna saya risih dengan beranda facebook/twitter yang masih ramai membahas seputar fakta dan fiktif nya hasil pemilu lalu.
Bukan pula karna saya pro ke salah satu atau kedua2nya.
Bukan pula karna saya tidak peduli akan nasib bangsa ini.
Bukan pula karna saya tidak percaya akan qodarullah.
Cobalah untuk tidak berpicik ria.
Cobalah untuk tidak memandang sebelah mata kepada saudara2 yang coba menyadarkan dengan usapan lembut, percikan air, sampai tamparan wajah.
Cobalah untuk bangun dan menyatukan diri sebagai ummat yang besar dan telah dijamin kebangkitannya oleh Sang Pemilik Kehidupan, Allah Azza wajalla.
Berhenti berpikir indonesia akan jatuh dalam kehancuran jika dipimpin satu orang dan akan lebih baik jika dipimpin yang lain.
Karna selama sistem yang dijalankan sama,
Selama ide yang dipegang adalah sama,
Dan selama ummat masih terlena oleh angin semu yang dikipaskan musuh2 islam,
Maka tidak akan ada itu yang namanya salam satu jari, dua jari, tiga jari.
Karna tidak akan ada jari.
Hanya kepalan.

“Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan”
(TQS. Asy-Syu’araa’ : 208)

“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.”
(TQS. Al-An’aam : 123)

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”
(TQS. Al-Baqarah : 126)

Wallahua’lam bishowab

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s