Yang tidak memiliki sesuatu, tak akan bisa memberikannya

Jika kita bertemu seorang pengemis, yang miskin papa, untuk keperluan hidup sehari-hari saja sulit, bisakah kita meminta uang Rp 10 juta rupiah darinya? Kita paksa bagaimanapun, ia tetap tak akan bisa memberikan uang Rp 10 juta yang kita minta tersebut. Mengapa, karena ia memang tak punya uang tersebut.


Seorang pemuda lajang nan shalih berkunjung ke rumah seorang tua alim, yang sangat ia hormati. Ia mengutarakan keinginan untuk menjadi menantu sang alim. Tapi ternyata, orang tua alim nan tawadhu’ itu menolaknya. Usut punya usut, orang tua tersebut menolak karena ia memang tak punya anak perempuan. Siapa yang akan ia nikahkan dengan pemuda shalih tersebut, jika ia sendiri tak memiliki anak gadis.
Demikian juga ilmu. Seorang yang tak memiliki ilmu, tak akan pernah bisa memberikan ilmu tersebut kepada orang lain, faaqidusy syai-i laa yu’thiih.

Para ulama dulu bahkan sangat ketat dalam pengajaran ilmu. Dalam sebuah riwayat, Abu Yusuf yang sudah merasa cukup ilmunya, membuka majelis ta’lim sendiri, dan meninggalkan majelis ta’lim gurunya, Abu Hanifah.

Abu Hanifah, ulama yang memiliki bashirah (mata hati) yang tajam, melihat Abu Yusuf belum matang ilmunya. Akhirnya, diutuslah oleh beliau seseorang, untuk hadir di majelisnya Abu Yusuf. Dititipkannya beberapa pertanyaan ke orang tersebut untuk diajukan ke Abu Yusuf, yang kemungkinan besar tak akan mampu dijawab Abu Yusuf.

Di majelis Abu Yusuf, utusan Abu Hanifah menanyakan satu persoalan, kemudian dijawab Abu Yusuf. “Anda salah”, kata orang tersebut, kemudian ia jelaskan jawabannya yang benar, yang telah diajarkan Abu Hanifah. Diajukannya lagi pertanyaan demi pertanyaan, setiap dijawab Abu Yusuf, orang tersebut selalu menyatakan salah, dan ia berikan jawabannya yang benar.

Akhirnya Abu Yusuf sadar bahwa orang tersebut adalah utusan Abu Hanifah, karena tanggapan-tanggapannya menunjukkan kedalaman ilmu yang hanya dimiliki Abu Hanifah. Akhirnya Abu Yusuf kembali mengikuti majelisnya Abu Hanifah.

Ikhwah fillah, contoh di atas tentu cukup ekstrim kalau diterapkan sekarang. Bisa jadi, kalau pakai standar Abu Hanifah dan Abu Yusuf di atas, majelis ta’lim di negeri ini tinggal hitungan jari tangan kanan.

Terkadang kita mengajar, bukan karena ilmu kita sudah matang dan mapan, namun lebih karena keperluan mendesak, agar ada majelis ilmu di lingkungan kita. Karena mendesak, yang setengah matang pun terpaksa maju ke depan. Jika tidak, mudharat yang lebih besar yang akan didapatkan. Akhirnya kita pakai kaidah, irtikaab akhaffidh dhararayn.

Namun, karena baru setengah matang, kita tetap wajib belajar dan terus belajar. Sebagaimana kesepakatan ulama, belajar itu harus terus dilakukan hingga ajal menjemput. Tidak boleh ada rasa puas dan cukup dalam menggapai ilmu. Tidak boleh ada kesombongan karena sedikit ilmu yang dimiliki, karena “laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa”, ilmu adalah pemberian dari Allah kepada kita, bukan murni usaha kita.

Dan yang lebih penting lagi, jangan pernah berbicara tanpa ilmu. Jika tak tahu, katakan tak tahu. Itu jauh lebih baik dari sikap sok tahu. Berkata tanpa ilmu adalah manhajnya orang-orang Nashrani, orang-orang yang tersesat, sebagaimana kata Al-Fatihah.

Kembali lagi, faaqidusy syai-i laa yu’thiih, orang yang tak punya sesuatu tak akan bisa memberikannya. Agar yang kita sampaikan dan ajarkan benar-benar ilmu, mari terus belajar dan menuntut ilmu.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Abduh Al-Banjary.

image

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s