Pelukan yang tidak terlarang

Sulung saya tipe anak yang sulit. Kalau kata Dr. Sears, dia termasuk highly needs child (anak berkebutuhan tinggi). Cirinya, sejak bayi sampai sekarang sama; kalau nangis kencang sekali-susah berhenti-susah dibujuk (semakin besar anak frekuensi nangisnya berkurang), kalau punya keinginan harus dipenuhi, keras-kepala batu, perfeksionis (nggak boleh salah atau kurang dikit), sebagian orang mengecap dia bandel (susah diatur). Anak seperti ini seringkali menyebalkan dan butuh kesabaran ekstra menghadapinya. Tidak banyak orang yang betah dekat-dekat dengan anak seperti ini. Orangtua yang punya anak seperti ini cenderung merasa gagal sebagai orangtua. Sutrislah awalnya, Mbokeee!

Kabar baiknya anak tipe ini cerdas dan berpotensi jadi pemimpin. Tinggal orangtuanya saja yang membentuk dia, jadi ketua gangster atau direktur perusahaan. Kebutuhan anak ini adalah harus lebih banyak didengarkan, lebih banyak dipeluk, lebih banyak disentuh, lebih banyak dipenuhi kebutuhannya (bukan keinginannya ya), butuh lebih banyak energi, harus lebih kreatif menghadapinya, lebih banyak stok sabar. Saya sendiri rasanya lebih banyak memenuhi kebutuhan si kakak dari adiknya. Kalau si adik dibelikan sepatu, kakaknya harus juga, tapi tidak sebaliknya.

Semalam saya peluk sulung saya lama-lama, saya usap-usap kepalanya, saya kecup dahi dan kepalanya. Dia diam, tak bergerak dan tak bersuara. Biasanya dia begitu kalau sedang terbawa perasaan. Wah, anak ini sudah lebih besar dari saya. Lengannya saja sudah lebih besar dari lengan saya. Tiba-tiba menyeruak rasa ke dada. Betapa saya sering egois, pelit memuji, pelit memeluk, dan pelit menyentuh anak ini. Hanya karena rasa kesal menghadapi semua ulahnya. Kadang ada rasa egois karena merasa anak itu salah dan kita sebagai orangtua yang benar. Padahal waktu saya kecil yang saya impikan pun hanya pelukan hangat seorang ibu. Padahal lagi, justru dengan memenuhi kebutuhan batin berupa penerimaan dalam sebuah pelukan malah dapat menyeimbangkan kekurangan yang ada pada dirinya. Demikian mahalkah harga sebuah pelukan orangtua untuk anaknya? Hanya karena sebuah ego?

Ah, saat memeluk sulung saya, saya seperti melihat saya waktu kecil. Betapa saya dan ibu dulu selalu saling ego, tidak ada yang mau mengalah, masing-masing merasa paling benar. Kami bisa tak saling menyapa berbulan-bulan. Padahal sederhananya kami hanya perlu berbagi pelukan. Kini ibu sudah berusia senja, kami saling belajar menerima. Waktu menyembuhkan luka-luka kami dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk menebus kesalahan.

Mungkin ini yang membuat seorang anak sulit ber-birrul walidain pada orangtuanya. Mungkin ini yang menyumbat komunikasi anak dengan orangtuanya. Berapa banyak anak yang mencari pengakuan di luar karena tidak merasa dicintai orangtuanya. Jangan sampai anak-anak kita terhalang dalam amal paling utama setelah kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya. Bantulah mereka dalam berbakti kepada kedua orangtuanya. Bermurah hatilah.

Moms, Dads, Dads, Dads, please hug them, everyday. Tatap matanya dan katakan kamu mencintai anakmu itu. Itu penting sekali untuk mereka. Please, do!

Source : FB Aminah Mustari

image

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s