For who deserve to stay

…. Sejak di alam ruh, hati kita memang sudah terpaut

Pernah terbetik kalimat itu? ini bukan semata kalimat khusus untuk si ehem lho ya, tapi lebih kepada siapapun. Ke seorang teman yang padahal baruuuu saja kita kenal beberapa detik .. ketemu, ngobrol, dan langsung terasa seperti pernah mengenalnya dan begitu dekat, di satu tempat yang entah dan dimasa yang entah ..

Ajib memang, betapa terkadang bersamaan tinggal dalam lingkungan yang sama, kegiatan yang sama, dari kecil hingga dewasa, tapi tetap saja hati merasa biasa. Dibilang jauh, enggak. Dibilang deket, nggak juga. Kalau jauh deket, itu metromini .. kalau jauh dimata deket dihati, nah bisa jadi … kalau jauh dihati deket dimata? ah sudahlah, … itu kan tai mata!

Kembali ke persoalan jauh dekatnya interaksi kita dengan orang-orang diluar sana. Sebagian mereka ada yang berstatus, teman biasa. Ada yang teman dekat, ada yang deket banget dan deket aja.

Lama sebentarnya kebersamaan, gak lantas menjamin dia akan selalu bersama kita. Bisa jadi masa bertahun-tahun, kemudian hilang blas begitu saja dalam sekejap. Kok bisa?

ya bisa aja, manakala seragam ruhnya sudah berganti.

image

Perhatikan gambar, betapa yang putih, akan berkumpulnya dengan yang putih, begitu juga barisan tentara lainnya. Coba deh 1 saja yang putih menyelinap ke barisan biru,

Dia akan asing sendiri disana, dan barisan biru pun akan asing dengan si putih tersebut.

——————————-

الأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَا مِنْهَا اخْتَلَفَ

Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3336 secara mu’allaq dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha.

Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan, bahwa asbabul wurud hadis ini yaitu ketika seorang wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa hijrah ke Madinah, ternyata dia tinggal dan bergaul dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya. Yaitu senang membuat orang tertawa. Karena itulah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan hadits ini. [1]

Al-Imam An-Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim (16/pada hadits no. 2638):

Para ulama mengatakan, maknanya mereka adalah sekelompok manusia yang berkumpul atau manusia yang bermacam-macam lagi berbeda-beda. Ruh-ruh itu saling mengenal karena suatu perkara yang Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menciptakan ruh-ruh itu di atasnya..

Ada yang mengatakan, karena mereka dijadikan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ di atas sifat-sifat yang saling mencocoki dan tabiat yang saling bersesuaian.

Ada yang mengatakan, karena mereka diciptakan secara bersama kemudian jasad mereka saling berpisah, sehingga yang mencocoki tabiat yang lain, dia akan bersatu dengannya. Dan yang saling berjauhan tabiatnya maka dia akan lari dan menyelisihinya.

Al-Khaththabi dan lainnya berkata bahwa persatuan mereka adalah kebahagiaan atau kesengsaraan ketika Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menciptakan mereka pada awalnya. Dan ruh-ruh itu terbagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan, jika jasad-jasad itu saling bertemu di dunia maka mereka akan bersatu atau berselisih sesuai yang mereka diciptakan di atasnya. Sehingga orang yang baik cenderung kepada orang yang baik, dan orang yang jahat juga cenderung kepada orang yang jahat.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ruh itu sebuah tentara yang dipersiapkan akan bertemu dengan yang sepadan. Sebagaimana kuda, jika dia cocok maka akan menyatu dengannya, dan bila tidak akan berpisah’.”

Dan di dalam suatu permisalan:

وكل من شكله يرغب

Setiap orang yang memiliki persamaan bentuk dengan orang lain, maka dia akan mencintainya

Dalam permisalan yang lain:

إن الطيور على أشكالها تقع
فكل يرغب في مثله

Sesungguhnya burung-burung itu akan bertengger bersama burung yang sama bentuknya sehingga setiap orang akan mencintai yang semisal dengannya.

Selain itu, di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa ruh-ruh diciptakan sebelum jasad, dan bahwa ruh itu merupakan makhluk, ketika bersatu atau berpisah bagaikan sebuah pasukan bila bertemu dan berhadapan. Hal ini karena Allah subhanahu wa ta’aala telah menjadikannya ada yang beruntung dan ada pula yang celaka.

Setelah itu jasad yang menjadi tempat ruh akan bertemu di dunia, maka akan bertemu atau berpisah sesuai dengan keserupaan atau tidaknya, yang telah diciptakan baginya di awal penciptaannya. Sehingga engkau melihat seseorang yang baik akan mencintai yang baik, dan orang yang jahat akan senang kepada yang serupa. Dan masing-masing dari keduanya akan lari dari lawannya.

image

Fyuhhhh, mantappp bukan? bahwa ternyata urusan pertemanan, dekat jauhnya kita dengan seseorang, jauh-jauh abad yang lalu pun, sudah digambarkan dalam Islam.

So,

Man may come,
Man may go ..

Seseorang bisa saja datang,
seseorang bisa saja pergi.

Yang datang kadang bisa menetap lama, atau hanya singgah sejenak kemudian pamit pergi.

Kehidupan selalu mengajarkan kita,

Bertemu, bersama, kehilangan, memiliki dan melepaskan. Betapa kehidupan juga selaaaalu membuat kita seperti seorang ibu yang mencuci pakaian, hati kita adalah pakaian basah yang diperas tersebut. Diperasssss hingga titik air penghabisan ..

Udah mencoba sabar, bertahan, sok kuat, sok tangguh … Teteupppp .. ada aja saat dimana kedua tangan kita kewalahan menampung airmata kita sendiri

Bagaimanapun, ..

Hidup harus terus berjalan, bukan?

“Semakin banyak dan semakin sering kita berinteraksi dan bertemu dengan banyak orang, maka semakin banyak pula kita belajar memahami, dan semakin lembutlah hati kita.
Jangan khawatir bada benturan yang akan ada, karena dari sanalah kita akan belajar.
Perbedaan itu fitrah, yang membuat kita jadi saling mengerti.”

Nah, semua ini berlaku untuk pertemanan, hingga pertemuanmu dengan seseorang yang mungkin kini telah menjadi partner hidupmu.

Jikalah bukan karena kesamaan seragam ruh, mana mungkin kalian terus bersama hingga saat ini?

Maka,

Tambal kekurangannya dengan kelebihanmu, dan jadikan kelebihannya sebagai pembelajaran utk kekuranganmu

Eh iya, yang belum menemukan partner se-seragam … InsyaAllah dengan selalu memohon kepada Yang Maha Mentenagai, mintalah selalu daya tambahan untuk terus menjalani takdirmu, terus, dan terusss …. hingga pada akhirnya langkahmu sampai jua pada partner se-seragammu.

Man saaro ‘ala darbi washola .. siapa yang berjalan, pasti sampai.

‪#‎Semangat‬! :’-)

By Sayyidah Murtafiah Djauhar

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s