Walimah Syar’i (man’s side)

image

Alhamdulillah, akhirnya dapet kesempatan untuk menghadiri walimah pernikahan yang islami. Dulu aku kerja di sebuah tempat video shooting wedding kenamaan di Jakarta, daerah cililitan. Visi PH tersebut “Menjadikan Perusahaan penyedia jasa yang terpadu terbesar dan terbaik di industry pernikahan Indonesia.” Hehehe, masih inget visi-nya, Karena tiap pagi sebelum kerja selalu ada briefing dan didalam briefing tersebut ada pengucapan visi ini secara berjaamah. Tapi seumur-umur kerja di ph wedding ini belum pernah ngeliput walimah pernikahan yang islami.

Walimatul ‘ursy yang syar’i selalu saya dapatkan gambarannya saat diceritakan oleh teman-teman yang pernah menghadiri acara tersebut ataupun yang telah mengalaminya sendiri.

Gambaran secara umum, dapat dideskripsikan sebagai berikut : Mempelai Pria dan perempuan di pisah, jadi gak satu stage, dibatasi oleh skat. Nah, mempelai pria dengan orang tua laki-laki dari kedua belah pihak (3 orang) . Disudut sebelah kanan/kiri antar sekat itu mempelai pria bersama orang tua wanita dari kedua belah pihak (3 orang), lalu dipernikahan tersebut gak ada music yang dinyanyikan oleh para biduan yang seksi, dengan rok mini dan make-up yang tebal seperti ondel-ondel, lalu berjoged dengan harapan dapet saweran. Dan meminta pak rt atau pak lurah naek ke atas panggung. “Saweran-nya pak luraaah.”

Sekitar pukul setengah 11 aku dan temanku, bang epul (pemilik percetakan ananda di blok m, lantai basement), sampai di gedung PTIK. Ketika masuk gedung, ada dua pintu masuk, sebelah kiri untuk ikhwan (laki-laki) dan sebelah kanannya untuk akhwat (perempuan). Kita masuk ke yang sebelah kiri, nulis di buku tamu, lalu dapet souvenir berupa buku kecil (note book), bisa dimasukkan kedalam saku baju. Aku pun mendapatkannya, sementara bang epul mengembalikannya kembali kepada salah seorang pagar bagus disana, seraya berkata : “buat yang lain aja, saya yang bikinnya.” Haha , aku pun spontan tertawa. Aku lupa bahwa bang epul punya percetakan.

Ketika masuk ruangan, biasanya kita lihat poto-poto prewedding. Namun tidak dipernikahan ini, stand-stand stager buat memampang poto prewedding diganti menjadi tulisan-tulisan yang bermanfaat seperti kutipan do’a dari al-quran. Masuk langsung menyalami pengantin dan mendoakannya, pakaian pengantin pun tetap syar’i. berpakaian tidak isbal. Pengantin pria berada di tengah, diapit kedua orang tua laki-laki (ortu kandung dan mertua).

Setelah salaman, lalu mengambil makan. Ketika makan dan kita melihat pemandangan sekitar, banyak orang yang memakai pakaian diatas mata kaki dan berjenggot lebat, bahkan ada yang menggunakan pakaian gamis khas Saudi dengan kofeyah diikat dikepalanya, begitu juga dengan anaknya yang ia dandani seperti itu (pakai gamis diatas mata kaki). Ada pula, bule belanda yang berjanggut  lebat dan panjang dan memakai baju gamis konon katanya bertempat tinggal di cilandak. Ketika kita berada disana, kita menganggap itu sebagai pemandangan yang lumrah. Tidak ada yang aneh. Kalo ditempat lain, mungkin bakal jadi pusat perhatian.

Didalam ruangan itu benar-benar tidak ada wanita sama sekali, kecuali anak-anak yang dibawa oleh bapaknya atau keluarganya. Ketika makan dan berbincang-bincang dengan tamu lainnya, aku bertemu dengan bapak-bapak tua yang bekerja di perusahaan pembuat garbarata (belalai yang digunakan di airport cengkareng untuk penumpang masuk kedalam pesawat). Beliau asli Palembang dan merupakan tamu dari pihak mempelai wanita. Beliau terpisah dengan istrinya. Namun ini hal yang biasa bagi beliau. Bapak beranak tiga ini menceritakan bahwasannya sebelumnya beliau pernah juga menghadiri acara pernikahan dengan konsep ini.

Beliau bercerita, “biasanya yang kaya gini tu pernikahan orang-orang arab.”
Namun aku menimpalinya bahwasannya sebenarnya inilah yang disebut pernikahan islami, bukan hanya budaya arab.
Namun kembali bapak itu menimpali. “kalo pernikahan islami, makannya duduk. Kaya di Malaysia, jadi undangannya di pas dengan tempat duduknya. Sehingga para pelayan yang akan datang memberikan makanan kemeja tamu. Bahkan acara batak aja makannya duduk, disediakan meja panjang.”

Masih berbincang-bincang dengan bapak berambut putih tersebut, yang aku tak tahu siapa namanya. Saat itu aku melihat 2 orang petugas yang berjalan diacara tersebut sambil membawa papan pengumuman bertuliskan nama seorang tamu. Lalu aku memberitahukan apa yang aku lihat ini kepada bapak sebelahku ini. Karena ini pemandangan yang unik menurutku, karena pemandangan ini belum pernah aku lihat di acara apapun sebelumnya. Namun bapak itu menimpalinya, ini kaya acara di hotel. Jadi fungsi orang tersebut adalah untuk memanggil para bapak-bapak atau tamu-tamu yang dimana datang bersamaan ke walimahan ini, namun terpisah di acara karena beda ruangan.

Misalnya si ibu (pasangan dari bapak yang dituliskan di pengumuman tersebut sudah selesai di ruang akhwat), beliau menghubungi juru pengumuman tersebut dan menuliskan nama pasangan-nya di papan tersebut. Setelah itu, juru pengumuman ini berputar-putar di ruangan ikhwan untuk mencari pasangan si ibu tadi. Petugas ini selain membawa papan pengumuman dia membawa lonceng pula, untuk menarik perhatian orang. Agar orang-orang melihatnya. Hal ini sangat penting, mengingat tidak semua orang punya pulsa didalam hapenya, meskipun hapenya canggih, atau belum tentu semua orang yang memiliki pulsa banyak di handphone-nya memiliki sinyal (kadang diacara-acara atau tempat-tempat tertentu sinyal suka susah). Teringat kisah ibuku dizaman dahulu kala, sebelumnya beliau juga sempat menghadiri acara walimahan yang syar’I seperti ini. beliau menghadirinya di gedung armed, cimahi. Pada saat itu, hape belum marak seperti ini. jadi sistemnya seperti ini : orang-orang yang telah selesai makan/ memenuhi hajatnya di ruangan tersebut mereka keluar dan langsung menghubungi juru pengumuman. Setelah selesai menuliskan nama orang yang dicari, mereka tinggal menunggu. Sementara nama orang yang dicari akan langsung diumumkan di sebuah toa (speaker yang moncong keluar, seperti bunga kucubung).

Pelajaran yang didapatdari acara ini adalah ; ternyata sejak dahulu telah ada yang menjalankan sunnah ini di Indonesia. Namun acara-acara seperti ini merupakan sebuah acara yang asing, orang-orang terheran-heran, kenapa harus dipisah. Ini adalah ajaran islam yang lurus, dimana pelanggaran berupa ikhtilat sangat diperhatikan.

Begitu juga sebagian komentar, “kok gak ada poto prewedding-nya sih.” Ini juga merupakan sebuah keistimewaan acara ini yang menujukkan bahwa kedua mempelai adalah orang yang berilmu. Budaya prewedding adalah budaya yang di import dari dunia barat yang tidak sesuai dengan budaya timur, bahkan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Memajang fotonya di resepsi, berarti dia rido wajah istrinya dilihat oleh laki-laki lain dan orang lain tersebut menikmatinya. Ini menunjukan ketidakemburuannya seorang laki-laki dan ini hal yang buruk.

Ketika sesi prewedding pun terjadi pelanggaran, pada umumnya pasangan yang melakukan poto prewedding melakukan saling bersentuhan dalam berpose, baik disuruh oleh fotografer ataupun tidak. Sementara bersentuhannya laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom, merupakan sebuah pelanggaran yang mendapatkan ancaman yang sangat berat.

Biasanya kita lihat yang dipamapang adalah poto prewedding, namun disini tidak ada satupun poto prewedding kedua mempelai, yang ada hanyalah kata-kata mutiara yang bersumber dari alquran dan as-sunnah.

Semoga akhi iman dan ukhti ami diberkahi pernikahan dan keluarganya jugadijadikan keluarga yang sakinah, Karena telah memulai langkah awal pernikahannya dengan sesuatu yang baik. Aamiin .

*di beberapa hari sebelumnya, ketika aku diundang untuk mendatangi acara ini oleh pengantin pria. aku bertanya padanya apakah orang tua-nya tidak keberatan dengan konsep pernikahan seperti ini ?. Beliau menjawab alhamdulillah setuju walaupun dengan perdebatan panjang. Ketika aku bertanya lagi, “antum kali ya orang pertama dalam keluarga yang nikahannya kaya gini, beda sendiri. haha”, beliau menjawab dengan mantapnya. “betul akh. Pertama dan in syaa allah pembuat tren.”

Tulisan asli bisa diliat disini

3 thoughts on “Walimah Syar’i (man’s side)

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s